Kelapa Sawit (TBS)

Dengan memiliki perkebunan sawit seluas 406.1 hektar PT. Mitra Tumbuh Perkebunan berusaha untuk memenuhi kebutuhan kelapa sawit untuk skala nasional mau pun internasional.

Baca Lebih Lengkap

Minyak Sawit (CPO)

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi.

Baca Lebih Lengkap

MTP

PT. Mitra Tumbuh Perkebunan

MT. Haryono Square 2nd Floor, Unit 28-29 Otto Iskandardinata No. 390 Jakarta Indonesia

Hubungi Kami
 

Sejarah Kelapa Sawit

Author : Budi Prayudi

Posting Date : 2017-04-12


Ingin tahu sejarah awal perkembangan Kelapa Sawit di indonesia, kali ini blog PT. Mitra Tumbuh Perkebunan akan membahas tentang sejarah Kelapa sawit di indonesia. Yuuk kita baca agar wawasan dan pengetahuan lebih lebih luas.

 

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia). Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Indonesia patut berbangga karena, Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan ternyata, kelapa sawit tersebut merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Bagikan Artikel Ini :